Thoughts

Tentang KKN, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia

Sudah berlalu 6 tahun di mana saya menjalani mata kuliah yang wajib di kampus saya yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dan setelah lulus S2 di Swedia beberapa saat lalu, saya baru sadar betapa pentingnya mata kuliah KKN itu, terutama tentang keterkaitannya dengan pembangunan berkelanjutan dan pengembangan diri. Waktu menjalankan KKN, mungkin bisa dibilang saya cuma melakukannya karena wajib, tanpa memahami artinya. Menurut saya dulu saya juga kurang dapat pengertian betapa pentingnya kuliah ini. Yang ada malah antar kelompok berlomba-lomba siapa yang dapat sponsor paling banyak, yang acaranya paling keren, dan yang paling seru. Di blog ini saya ingin berbagi, kenapa KKN menjadi penting, dan mungkin beberapa ide untuk membuatnya lebih bermakna.

Sebelum lanjut, saya mau shoutout dulu ke teman-teman KKN saya di Kalinongko, Kulon Progo! Thank you Angie, Vinny, Yossy, Yogi, Bimo, Ayik, Arga, Cynthia, Sasha buat kenangan yang super menyenangkan, lucu dan luar biasa 😀 Dan buat Pak Sadiran, Bu Kris, dan Restu juga tentunya!

Ngomong-ngomong, saya kuliah di Swedia dengan fokus architecture and planning beyond sustainability di Chalmers University of Technology. Di sini topik yang dibahas adalah isu lingkungan, sosial, ekonomi dan politik di dunia global yang aktual dan bagaimana kita sebagai arsitek, perancang kota dan perancang interior bersikap melalui desain ataupun pendekatan lainnya. Tentu saja, meskipun yang dibahas adalah isu global dari perubahan iklim, peperangan sampai krisis ekonomi, pendekatan lokal sangat penting.

Saya merasa senang setelah kuliah ini, karena ini benar-benar unik. Di mana kuliah di kampus arsitektur lain banyak yang fokusnya di teknologi terkini saja, atau perancangan bangunan yang ramah lingkungan atau hemat energi misalnya, atau perancangan kota dengan metode terbaru, di jurusan saya ternyata lebih dari itu. Yaitu, menyertakan manusia dan biota di lingkungan – termasuk hewan, tanaman, air, tanah, dan aspek alam lainnya, dengan tidak melupakan analisis ekonomi dan sosial yang mendalam.

Melalui proses ini, dan diskusi dengan teman-teman internasional di kampus, dengan percaya diri saya mau garis bawahi bahwa mahasiswa dari Indonesia punya sesuatu yang penting untuk disuarakan. Saya sering dengar bahwa mahasiswa Indonesia tidak percaya diri karena di luar negeri mahasiswa lebih pintar atau canggih menggunakan software. Padahal, ada hal yang lebih substansial daripada itu. Salah satunya adalah nilai kemanusiaan, cinta alam, cinta budaya yang dimiliki oleh orang Indonesia secara umum (paling tidak, hampir semua teman Indonesia saya punya sedikit banyak nilai ini). Mahasiswa dari negara lain belum tentu pernah mengalami bencana alam sebanyak mahasiswa Indonesia, bahkan mungkin belum pernah merasakan makan dengan tangan. Mungkin, hubungan kita dengan alam, baik itu pengalaman baik maupun buruk, ada di level yang berbeda dan bisa jadi hubungan kita dengan alam pun sedikit berbeda. Bisa jadi, pemahaman kita tentang segregasi sosial juga berbeda, namun sama pentingnya dengan yang terjadi di area lain. Jangan pernah anggap kita ketinggalan, karena sebenarnya banyak nilai yang masih kita pegang, yang mungkin harusnya menjadi solusi dunia.

Di sinilah saya menyadari bahwa dalam segi pendidikan, KKN telah membantu saya untuk melihat dunia yang sebenarnya. Bahwa kuliah di dalam ruangan kelas kampus yang nyaman, membicarakan semua teori dan berlatih merancang di kelas tidak ada artinya jika kita tak tahu bagaimana ilmu kita harus diaplikasikan di dunia nyata. Menurut saya, KKN memberikan keunikan yang nyata bagi pendidikan di Indonesia, yang perlu untuk dilanjutkan demi generasi pemimpin yang lebih memahami kondisi sebenarnya.

Setelah selesai S2 dan merefleksikan lagi tentang pembangunan berkelanjutan, saya menyadari banyak hal yang sebenarnya diajarkan oleh warga di mana saya menjalankan KKN. Ini di antaranya.

Menyadari bahwa alam telah menyediakan segalanya.

Ketika KKN, rumah yang saya tinggali masih menggunakan tungku api. Bapak mengambil kayu di belakang rumah untuk menyalakannya. Bapak berburu babi untuk kita makan. Ibu mengambil ketela dari kebun. Kadang saya, teman-teman dan ibu ke pasar untuk membeli semua bahan yang asalnya dari sekitar. Rumah bagian belakang terbuat dari bambu dan kayu, menjaga rumah tetap sejuk meskipun hari panas, dan menjaga isi rumah aman meski terkena gempa karena lebih fleksibel. Cahaya masuk sedikit-sedikit dengan indah, menerangi secukupnya tanpa butuh lampu. Namun kadang masyarakat desa malu akan ini, menganggap dirinya tidak modern. Padahal, ini adalah contoh arsitektur vernakular yang tanggap terhadap alam.

Sasha dan Yossy memasak jagung di dapur Ibu.

Menyadari bahwa uang bukan segalanya.

Tidak banyak yang perlu dijelaskan dari poin ini. Intinya adalah, jika kita memelihara alam dan berusaha darinya, uang sedikit pun cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan dan kehidupan secara dasar, termasuk pakaian dan mungkin pajak bangunan, listrik dan pendidikan. Lebih penting dari uang, adalah kebersamaan dengan keluarga, kedamaian dan kehidupan yang rukun.

Menyadari bahwa teknologi bukan selalu jawaban dari masalah.

Saat belajar di Swedia, banyak yang ditekankan tentang sustainable development adalah untuk berhenti mengkonsumsi sesuatu yang tidak perlu dan juga untuk menggunakan suatu produk yang secara siklus kehidupannya positif atau netral terhadap alam. Kami membahas mengenai bahan alami yang orang Swedia bahkan tidak kenal. Tapi bagi orang Indonesia, mumpung belum terlambat, saya harap kita tidak pergi ke arah yang terlalu bergantung pada teknologi. Kembali ke alam, pikirkan apa yang terjadi pada bangunan maupun produk setelah masa hidupnya habis. Contoh mudahnya, plastik adalah salah satu produk dari teknologi yang sekarang jadi masalah besar. Sedangkan rakyat Indonesia pernah dan masih menggunakan daun pisang atau daun lainnya sebagai pembungkus. Mengapa harus meninggalkan ini jika setelah dibuang lebih baik untuk bumi? (Curhat selingan: Sambil menulis ini sambil agak kesal kalau lihat produk yang packaging-nya lebih heboh daripada produk itu sendiri. Lagipula, akan jadi sampah juga.)

Kami makan bersama, duduk di atas tikar di atas tanah, makan pakai tangan dari makanan yang terbungkus daun pisang bersama warga.

Dunia arsitektur di Swedia kini terlalu bergantung pada teknologi, mengklaim produk sebagai eco-friendly. Tapi tak selamanya itu sebaik bahan natural yang mereka sedang berusaha kembalikan yaitu straw bales. Sayangnya, mereka tidak mengenal ini karena sudah terlalu lama ditinggalkan dan tidak ada pasarnya. Orang tidak tertarik pada hal yang terkesan ’ketinggalan jaman’. Teknologi bangunan dengan (yang katanya) emisi rendah tapi lebih rumit dalam produksinya lebih menarik bagi mereka yang progesif. Namun apakah ini lebih baik untuk masa depan? Saya tidak tahu.

Indonesia punya bahan bangunan alami yang banyak, bahkan mungkin kok, membuat bangunan tinggi dari kayu. Saya berharap kita tidak terlalu mengejar sesuatu yang tren, tapi sesuatu yang baik dan lokal untuk pembangunan berkelanjutan. Saya rasa, Indonesia sebenarnya punya lebih banyak pilihan yang baik untuk alam dan manusia. Ini sangat saya rasakan juga saat KKN dan tinggal di rumah tradisional.

Menyadari bahwa pembangunan berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi,

… namun juga penting untuk tahu bahwa aksi individu sama pentingnya.
Poin ini sepertinya sudah cukup jelas. Tidak ada satu profesi pun yang bisa bekerja sendirian. Namun kita sebagai individu juga harus memulai usaha itu, sekecil apapun.

Menyadari bahwa bukan kita yang mengajari mereka, tapi mereka yang mengajari kita.

Poin ini juga tidak perlu banyak penjelasan. Masyarakat lokal di Indonesia punya nilai-nilai budaya yang sangat luar biasa, terutama mengenai bagaimana mereka memaknai kehidupan dan menerima apa yang mereka miliki (dan tidak miliki, mungkin?). Tentang pentingnya keluarga, tentang rasa syukur, tentang pentingnya menjaga air bersih, dan lainnya. Ada hal-hal esensial yang berkaitan dengan hati yang bisa dipelajari, yang tidak kita dapatkan di bangku kuliah di kelas.

Setiap hari kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang selalu tersenyum, semangat belajar dan bermain di luar rumah tanpa menggunakan alas kaki.

Baru-baru ini saya kesal sekali setelah menonton dokumenter tentang Ekspedisi Indonesia Biru di mana pemerintah memaksakan penyelenggaraan sawah padi di area tertentu di Indonesia yang tanahnya semestinya subur untuk keladi dan sagu. Mengapa memaksakan sesuatu? Kalau alasannya untuk produksi pangan dan ekonomi dunia yang berdasar pada produksi beras, saya tidak tahu lagi apakah ini artinya pemerintah sudah lupa tentang betapa alam dan cara hidup masyarakat Indonesia itu tidak bisa disamakan. Atau mungkin yah, hanya masalah prioritas saja.

Ini salah satu trailernya. Silahkan menonton di Youtube jika tertarik. Ada di lokasi lain juga.

Sebenarnya setelah menonton dokumenter ini saya baru terinspirasi untuk menulis tentang bagaimana saya dulu tidak memaknai proses KKN sebagaimana seharusnya. Bisa dibilang, I took it for granted. Saya harap, KKN terus diadakan, dan meskipun sekarang ini tidak semua universitas memilikinya, saya rasa ini saatnya. Semoga Pak Nadiem pun juga memikirkan hal ini. Mungkin nama KKN juga bisa diganti untuk yang lebih catchy karena singkatannya sama dengan sesuatu yang bertolak belakang. Di kampus saya di Chalmers ada program serupa tapi tidak wajib. Programnya dinamakan Reality Studio di mana mahasiswa pergi ke negara yang berkembang, belajar dan saling membantu untuk pembangunan berkelanjutan di daerah tersebut. Beberapa tahun terakhir mereka melaksanakannya di Kenya dan Tanzania. Sama dengan KKN, ada dari hasil proyeknya ada juga yang bersifat sementara, but good effort, anyway!

Setahu saya (tolong koreksi jika salah), KKN hanya diwajibkan untuk beberapa universitas di DI.Yogyakarta. Saya tidak tahu apakah di provinsi lain ada juga.

Bagaimana menurut kalian, apakah pendidikan Indonesia butuh untuk mengaplikasikan KKN di seluruh area? Nama apa yang sebaiknya dipakai? Mungkin nggak, ya, kalau kita menulis surat ide ini bersama-sama untuk Pak Nadiem Makarim?

Kirim message ke saya melalui Instagram @titisrk kalau kamu tertarik untuk diskusi ini 🙂
Terima kasih sudah membaca!

Salam,
Titis

No Comments Found